STANDARD KOMPETENSI, MAKHLUK APAKAH ITU?

Sebuah cerita disebuah rumah makan ternama di Ibukota, bertemulah 2 orang sejawab, namun bekerja pada perusahaan yang berbeda, mereka berdua telah puluhan tahun bekerja diperusahaan masing-masing. Sebut saja si A dan si B, mereka berbincang-bincang tentang karir diperusahaannya masing-masing, si A bercerita tentang karir diperusahaannya
“Aku telah bekerja di perusahaanku puluhan tahun, pertamakali aku bergabung dengan perusahaan itu, mereka menempatkanku pada posisi dimana aku harus belajar sambil bekerja, sementara latar belakang pendidikanku adalah sarjana ekonomi aku ditempatkan dibagian marketing sesuai dengan kebutuhan perusahaan saat itu. pertama aku duduk dijabatan itu aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri selama 6 bulan, namun belum aku menguasai sepenuhnya, bossku bilang bahwa saat ini posisi Quality Control sedang kekurangan orang, karena orang yang sebelumnya pindah ke perusahaan lain. Mulailah aku pindah kebagianku, disini aku membutuhkan waktu 8 bulan untuk penyesuaiannya karena memang bidang ini butuh ketelitian dan keahlian yang lebih dibanding lainnya. Dengan kondisi kerja seperti itu, saat ini kondisi kesejahteraanku tidak terlalu signifikan dibanding kondisiku sejak pertama aku disini, standard gaji yang tidak jelas, penempatan orang yang seenaknya sendiri, saat ini turn over karyawan diperusahaanku sangat tinggi sehingga biaya untuk pengembangan SDM sangat besar sekali dan ini yang membuat kami semua kecewa, karena Bonus yang dijanjikan ternyata tidak dapat dikeluarkan, bla–bla–bla ” demikian si A memaparkan kondisinya. Tidak kalah semangat si B juga bercerita tentang karirnya di perusahaannya “Saat ini aku menjawab sebagai manager di perusahaanku, satu tingkat dibawah direktur, dulu pertama aku masuk perusahaan ini, mereka hanya meminta saya menunjukkan sertifikat kompetensi kerja yang sesuai dengan apa yang diinginkan perusahaan karena pada salah satu bagian mereka membutuhkan seorang tenaga yang siap pakai dan siap kerja, diperusahaan itu aku tidak mendapatkan orientasi kerja, karena pada dasarnya yang masuk ke situ adalah orang yang kompeten, sehingga aku langsung dapat menunjukkan produktifitas kerjaku, dalam waktu 3 bulan aku dipromosikan naik satu level, karena mereka memiliki target performa yang diinginkan dan aku melaluinya dengan sangat baik, pandapatanku naik hampir 4 kali lipat sewaktu aku pertama kali masuk perusahaan ini, bonus perusahaan berikan setiap tahun, bahkan pada waktu tertentu kami semua berekreasi keluar kota untuk refreshing bersama dengan para keluarga karyawan, bla–bla–bla”. Itulah sekelumit kisah seputar kondisi bagaimana seseorang bekerja sesuai dengan bidangnya dan bagaimana perusahaan mengakomodasi kemampuan sesorang terhadap jenjang karir didalam sebuah perusahaan.
Ada sebuah kata yang tadi terselip diantara percakapan 2 orang diatas, yaitu KOMPETEN, apakah itu? dan bagaimana melakukan penilaian terhadap KOMPETENSI seseorang? berikut adalah sebuah diskusi kecil terkait hal tersebut.
Apa yang dimaksud kompeten atau kompetensi itu?
Didalam Skills toward 2020 (1996) yang diambil dari openlibrary.org, banyak yang mengadopsi definisi kompetensi dari National Training Board-nya Australia, yakni: “the ability to perform the activities in an occupation or function to the standards expected by employment” (NTB, 1991). “Ability” di sini biasanya diartikan merupakan kombinasi “knowledge, skills and attitudes”. Atau diambil dari proyek riset yang diadakan oleh OECD yang khusus membahas pendefinisian kompetensi (judul proyeknya: Definition and selection of competencies). Proyek ini dimulai pada 1997 dan dalam Symposium keduanya (2003): ada kesepakatan definisi kompetensi: A competence is defined as the ability to meet complex demands successfully through the mobilization of mental prerequisites (Rychen & Salganik, 2003). Jadi bisa disimpulkan bahwa kompetensi itu adalah kombinasi dari Pengetahuan, Kemampuan dan Etika kerja sesorang yang dipertemukan dengan kebutuhan ditempat kerjanya, sehingga menghasilkan produktifitas kerja yang diharapkan.
Bagaimana cara mengukur kompetensi?
Mudah, bandingkan saja dengan standar Pengetahuan, Keahlian dan Etika yang ada, disebut juga Standar Kompetensi Kerja. Ilustrasinya adalah seperti dibawah ini :

Untuk mengukur kompetensi itu sangat mudah, cukup membuat sebuah pemberat berupa buku-buku yang berarti peraturan-peraturan yang berisi sebuah standar, dalam hal ini adalah standar kompetensi seseorang, kemudian timbang KSA sesorang berupa Pengetahuan, Keahlian dan Etika seseorang dengan standar yang telah dibuat tersebut. Bila hasil timbangan tersebut miring/berat kearah pemberat (dalam hal ini standar kompetensi) maka berarti orang yang bersangkutan tersebut belum seberat standar yang diberlakukan, atau dalam kata lain orang tersebut belum KOMPETEN atau memiliki KOMPETENSI yang diharapkan. Sedangkan bila sebaliknya maka orang tersebut telah kompeten terhadap sebuah bidang pekerjaan.
Apakah Standar Kompetensi itu ?
Standar Kompetensi adalah pernyataan-pernyataan mengenai pelaksanaan tugas di tempat kerja yang digambarkan dalam bentuk hasil output :
• Apa yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh karyawan.
• Tingkat kesempurnaan pelaksanaan kerja yang diharapkan dari karyawan.
• Bagaimana menilai bahwa kemampuan karyawan telah berada pada tingkat yang diharapkan.
Kegunaan Standar Kompetensi diantaranya adalah :
• Lebih efesien dalam biaya, dan membuat pendidikan dan pelatihan keterampilan lebih relevan.
• Pembentukan keterampilan yang lebih baik untuk dapat bersaing ditingkat internasional.
• Penilaian yang lebih konsisten.
• Adanya hubungan yang lebih baik antara pelatihan, penilaian dan pemberian sertifikat.
• Kemungkinan diakuinya pelajaran-pelajaran yang telah diterima sebelumnya.
Untuk Tingkat industri dan perusahaan :
* Pengidentifikasian yang lebih baik mengenai keterampilan yang dibutuhkan.
* Pemahaman yang lebih baik mengenai hasil pelatihan.
* Berkurangnya pengulangan dalam usaha pengadaan pelatihan.
* Peningkatan dalam perekrutan tenaga baru.
* Penilaian hasil pelatihan yang lebih konsisten dan dapat diandalkan.
* Pengidentifikasian kompetensi di tempat kerja yang lebih akurat.
Bagaimana Bentuk standar Kompetensi?
Suatu unit Standar Kompetensi mencakup pesan kunci di tempat kerja dan terdiri dari empat komponen :
* Elemen yang menggambarkan garis besar aktifitas-aktifitas terpenting yang termasuk dalam peran.
* Kriteria pelaksanaan tugas yang merinci hal-hal yang harus dilakukan untuk menunjukkan kemampuan seseorang.
* Beberapa variabel yang dapat menggambarkan relevan konteks dan kondisi pada suatu unit.
* Penentuan bukti yang memberikan gambaran bagaimana kompetensi akan diakui.
Apakah Penilaian Berdasarkan Kompetensi ?
Penilaian Berdasarkan Kompetensi adalah suatu penilaian di mana bukti dari pekerjaan yang dilaksanakan dibandingkan dengan kriteria pelaksanaan tugas relevan di tempat kerja. Penilaian kemudian memutuskan apakah kretiria pelaksanaan tugas telah dipenuhi atau tidak.
Berikut ini adalah beberapa mamfaat dari pekerjaan ini :
* Peserta yang pandai yang dapat memperlihatkan bahwa dirinya kompeten dalam keterampilan tertentu dapat maju lebih cepat.
* Perusahaan dan organisasi dapat mengidentifikasi staf yang sesungguhnya membutuhkan pelatihan.
* Motivasi staf dapat ditingkatkan melalui pengakuan atas kompetensi yang telah dicapai.
* Keterlibatan tempat kerja dan industri.
Penilaian berdasarkan Kompetensi dapat melibatkan berbagai metode :
* Observasi atas pelaksanaan tugas oleh peserta.
* Memeriksa proses yang digunakan dan produk yang dihasilkan.
* Ujian tertulis dan esai untuk mengukur tingkat pengetahuan.
* Ujian lisan dalam hubungannya dengan demonstrasi praktis.
* Proyek perseorangan atau kelompok, biasanya tanpa pengawasan.
* Simulasi dan bermain pesan.
* Kumpulan contoh dan sampel yang dipakai untuk menilai presentasi dalam keterampilan seseorang sebelumnya.
* Latihan tanya jawab interaktif menggunakan komputer.
* Penilaian ini dapat dilaksanakan oleh pelatih pengawas di tempat kerja atau penilai yang diakui oleh industri.
Untuk Memperoleh Kompetensi Apakah Perlu Training dan Apa Jenis Trainingnya?
Bila anda telah kompeten terhadap bidang kerja anda maka anda tidak perlu meengikuti training, cukup langsung melakukan assesment saja terhadap Kompetensi anda, namun bila anda belum kompeten maka anda perlu dilatih dengan pendidikan atau pelatihan atau training untuk mendapatkan itu. Jenis trainingnya adalah Taining Berbasis Kompetensi atau disebut Competency Based Training (CBT).
Apakah Pelatihan Berdasarkan Kompetensi itu (Competency Based Training (CBT))?
Pelatihan Berdasarkan Kompetensi (CBT): adalah pelatihan yang didasarkan atas hal-hal yang diharapkan dapat dilakukan oleh seseorang ditempat kerja. Hal ini secara luas diterima di mancanegara, dan merupakan salah satu cara untuk membuat pelatihan lebih relevan terhadap dunia kerja.
CBT memberikan tekanan pada apa yang dapat dilakukan oleh seseorang sebagai hasil dari pelatihan (output). Hal ini berbeda dengan pendekatan tradisional yang lebih memberikan tekanan pada jumlah kehadiran dalam pelatihan (input).
Dengan demikian, manfaat CBT adalah :
Untuk Peserta, CBT dapat :
* Memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar mengembangkan keterampilan dengan tingkat kecepatan yang berbeda dan dengan cara yang berbeda.
* Memungkinkan peserta untuk lebih bertanggung jawab terhadap kemajuannya.
* Memotivasi peserta.
* Membuat peserta aktif dan dapat memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya.
Untuk Pelatih, CBT dapat :
* Memungkinkan adanya kesesuaian antara pelatihan dan persyaratan kemampuan kerja.
* Memungkinkan adanya kebebasan dalam penentuan waktu mulai, selesai dan kecepatan program pelatihan.
* Penyederhanaan prosedur penilaian.
Untuk Pemberi Kerja, CBT dapat:
* Menjamin kemampuan seseorang karyawan.
* Memungkinkan bagi staf untuk mendapatkan penghargaan atas apa yang telah diketahui serta apa yang dapat dilakukan.
* Mengurangi waktu pelatihan untuk beberapa karyawan.
Apakah Sertifikat Kompetensi itu ?
Sertifikat Kompetensi adalah pengakuan formal bahwa seseorang telah memperoleh kopentensi dalam suatu bidang tertentu. Artinya :
* Orang itu harus dapat mendemontrasikan pelaksanaan pekerjaan yang disyaratkan ditempat kerja.
* Orang itu mungkin saja telah beberapa lama mengembangkan dan melatih keterampilan ditempat kerja.
* Orang itu akan dinilai berdasarkan kompetensi.
Dengan demikian pemberian sertifikat dalam sistem pendidikan dan pelatihan berdasarkan kompetensi bukan hanya mengenai penyelesaian suatu program belajar, melainkan merupakan suatu keharusan bagi peserta untuk mendemonstrasikan bahwa dia telah mencapai kompetensi yang dimaksud.
Dalam sistem yang mapan dengan dukungan kuat dari industri sebagian besar penilaian dan pemberian sertifikat dapat dilakukan di tempat kerja atau lingkungan simulasi.




Comments (1)
hrm-training.com » PAKET PELATIHAN ASSESOR BERBASIS KOMPETENSI
September 3rd, 2009 at 7:57 pm
[...] karyawan yang dinyatakan kompeten. Kerjasama ini bermaksud menawarkan Pelatihan Assessor Berbasis Kompetensi (Competency-based Assessor Training) bagi pegawai institusi swasta mapun pemerintahan agar dapat [...]
Leave a reply